Minggu, 06 Juni 2010

Mahasiswa IKIP Gunungsitoli mempertanyakan kejelasan Program Studinya


Sejak pukul 09.00 Wib pada sabtu (6/6) kampus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan  (IKIP) Gunungsitoli berbeda dengan hari-hari biasanya. Kampus yang biasanya selalu disibukkan dengan aktivitas perkuliahan, namun pada hari itu dipenuhi oleh kerumunan mahasiswa yang berorasi diselingi menyanyikan lagu-lagu aksi didepan kantor rektorat. Bermula dari adanya isu yang berkembang bahwa izin operasional setiap prodi di IKIP Gunungsitoli telah habis membuat mahsiswa gerah akan hal itu ditambaha dengan akreditasi yang tidak ada. Padahal IKIP Gunungsitoli yang telah berdirri sejak tanggal 15 November 1965 dengan akta notaries Walter Siregar Nomor 17 tanggal 19 oktober 1965 yang artinya telah 45 tahun IKIP Gunungsitoli berdiri di tanah Nias.

Para mahasiswa didalam orasinya yang juga termuat didalam peryataan sikap menyatakan IKIP Gunungsitoli adalah primadona masyarakat Pulau Nias yang terus bercahaya dan berkipra hingga kurang lebih 45 tahun. Sudah hampir ribuan kaum-kaum pendidik intelektual telah dihasilakan..

Izin operasional yang telah usai masa berlakunya, sampai sekarang belum mampu dan bisa dipastikan realisasinya. Sehingga membuat para mahsiswa gelisah, resah dan trauma untuk terus menimba ilmu dan meniti karier di kampus IKIP Gunungsitoli. Tidak pedulikah yayasan dengan kegelisahan dan keresahan mahasiswa saat ini…??? Ataukah rektorat IKIP Gunungsitoli yang tidak acuh menanggapi kasus ini…???

Kami memastikan bahwa kampus IKIP Gunungsitoli berada dalam posisi yang sangat mengkwatirkan dan terancam, dengan keberadaan yang masih belum terakreditasi yang berakibat fatal akan ditutupnya kampus IKIP Gunungsitoli ini. Jangan biarkan harapan orangtua kami sirnadikampus IKIP Gunungsitoli ini, tetesan keringat mereka merupakan amanah dan perjuangan keris tajam.

Jelajah Alam


Jumat, 04 Juni 2010

GMNI-Cabang Nias Unjuk Rasa di BRI Gunungsitoli

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Naional Indonesia (GMNI) Cabang Nias unjuk rasa di BRI Gunungsitoli terkait dengan dugaan pemotongan dana BSPR yang dicairkan melalui BRI Gunungsitoli, Rabu (26/05).

Dalam pernyataan sikapnya yang dibacakan pimpinan aksi Azwar Lahagu sangat menyedihkan dan memalukan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Gunungsitoli sebagai salah satu lembaga yang menjadi idaman masyarakat Nias selama ini dari sisi keuangan menjadi lembaga korupsi, dimana BRI secara langsung telah melakukan pembodohan kepada kaum-kaum termajinalkan khususnya masyarakat Nias.

Hal ini bisa dibuktikan dana BSPR seharusnya dicairkan bulan Desember 2009 lalu namun baru terealisasi pada April 2010.

Dituturkannya bahwa betapa sedihnya masyarakat Nias yang menerima uang tersebut yang ternyata dipotong setiap penerima antara Rp 50.000-70.000 untuk kurang lebih 11.000 penerima.