Rabu, 01 September 2010

Roh, Komponen pendidikan yang hilang

Indonesia sedang dilanda krisis karakter sehingga saat ini muncul wacana perlunya pendidikan karakter disekolah-sekolah. Usaha itupun sudah dimulai oleh Kementrian Pendidikan Nasional dengan memasukkan pendidikan karakter kedalam kurikulum yang saat ini sedang digodok.

Keterpurukan bangsa saat ini memang disebabkan oleh jeleknya sumber daya manusia yang mengelola system di Indonesia, sehingga sumber daya manusia yang baru pun terkontaminasi oleh limbah-limbah pengelola system tersebut. Jika kondisi ini tetap dipertahankan niscaya Indonesia akan terhempas kejurang kehancuran. Karena akan berefek kepada rasa kesadaran akan memiliki negeri ini menjadi menipis, sehingga pelan-pelan bangsa ini akan mencopot semboyan “ Bhineka Tunggal Ika” dari cengkraman kaki Burung Garuda. Karena setiap orang hanya akan berpikir untuk dirinya sendiri.

Perihal demikian disebabkan adanya kompenan pada mesin pendidikan yang sudah tidak bergerak. Komponen tersebut luput dari mekanik yakni para praktisi pendidikan untuk digerakkkan lagi. Sebab dengan tidak bergeraknya komponen itu mesin pendidikan juga tetap bergerak. Itulah sebabnya komponen tersebut tidak mampu mencuri perhatian agar digerakkan lagi, sehinnga output pendidikan tidak sempurna. Padahal tuntutan akan apa yang dihasilkan oleh pendidikan adalah kesempurnaan. Hal ini disebabkan karena pendidikan adalah sebuah proses. Proses dimaksud adalah cara dimana seorang manusia agar mampu menggali bahkan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

Wacana untuk memasukkan pendidikan karakter kedalam kurikulum adalah suatu wacana yang kurang tepat. Karena hal ini membuktikan bahwa orang-orang yang saat ini mengendalikan system pendidikan telah kehilangan sejarah pendidikan di Indonesia. Taman siswa saat pertama kali didirikan bukan hanya sekedar membuat siswa/I nya tahu membaca atau berhitung. Namun dengan tujuan membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, merdeka lahir batin, luhur akal budinya, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani dan rohaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya. Dari tujuan didirikannya taman siswa tersebut jelas sekali kepribadian manusialah yang diharapkan mendapat perubahan. Karena manusia-manusia yang memiliki kepriabadian yang baik dengan sendirinya akan lebih semangat, lebih mau untuk belajar menulis dan berhitung. Jika dilihat dari tujuannya tersebut yang diutamakan adalah kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) baru selanjutnya kecerdasan Intelektual(IQ). Kenyataaan saat ini di dunia pendidikan yang terjadi justru sebaliknya yaitu siswa dipaksa untuk menghafal, menulis dan menghitung yang semuanya itu dominan peningkatan IQ, sedangkan dua kecerdasan lagi terabaikan. Karena mata pelajaran yang seharusnya mengembangkan EQ dan SQ seperti sejarah, pendidikan kewarganegaraan, agama dan beberapa mata pelajaran lainya lebih sering menyuruh siswa untuk menghafal materi pelajaran. Sehingga IQ-lah yang meningkat sementara EQ dan SQ semakin merosot, apalagi karena dibarengi dengan tontonan saat ini yang kurang mendidik. Demikian halnya cara evaluasi saat ini yakni ujian nasional hanya untuk mengukur kemampuan IQ saja. Bung Karno, Dibawah bendera revolusi pada tulisan “ Menjadi guru dimasa kebangunan” mengatakan kalau guru-guru perguruan kita itu hanya guru-guru yang tahu mengajar dan menulis dan menghitung “saja”, maka alangkah besarnya penyakit-penyakit masyarakat internasioanal kepada tubuhnya masyarakat sendiri. Itulah masalah yang kini mendera didunia pendidikan saat ini.

Memasukkan pendidikan karakter kedalam kurikulum tidak akan menyelesaikan permasalahan pendidikan tersebut. Justru akan menghambur-hamburkan uang saja, belum lagi ketidakmengertian para guru didaerah akan maksud pendidikan karakter didalam kurikulum sehingga membuat keacuhan akan bentuk pendidikan karakter tersebut. Padahal pendidikan karakter sebenarnya sudah tercantum di mata-mata pelajaran afektif. Tinggal bagaimana merubah pola yang selama ini dalam menyampaikan materi pelajaran yang terkesan hanya untuk menghafal tanpa memahami.

Peran serta guru adalah langkah utama dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Gurulah yang menjadi pembentuk akal dan jiwa anak-anak. Itulah sebabnya mengapa jatuh bangunnya setiap bangsa ada ditangan guru. Saat ini guru di Indonesia telah kehilangan “Roh” yang seharusnya dia miliki untuk ditularkan ke anak didiknya. Bung karno, dibuku yang sama mengatakan “ Roh kerakyatan, Roh kemerdekaan, Roh kelaki-lakian(keksatriaan) harus berkobar didalam badannya guru-guru itu. Roh tiga inilah yang harus menjadi wahyu penghaibat hidup, wahyu cakranigrat yang mandjing didalam mereka punya sukama”. Dari hal tersebut kita lihat ketiga roh itu memiliki kekuatan yang luar biasa sehingga mampu menjadi api keramat. Ketiga roh tersebutlah yang harus ditularkan kepada siswa agar setiap setiap siswa merasa memiliki bangsa yang sudah merdeka ini dan dengan jiwa keksatriaan akan tetap mempertahankan keutuhannya.

Roh tersebut merupakan komponen dalam mesin pendidikan yang selama ini luput dari para mata mekanik pendidikan. Oleh karena itu, yang paling penting saat ini adalah bagaimana agar ketiga roh tersebut dapat menyala bahkan berkobar di setiap insan guru juga di setiap calon guru( mahasiswa keguruan dan ilmu pendidikan). Ketika roh tersebut manpu tertularkan kesetiap tubuh siswa maka bangsa ini pun dengan sendirinya memiliki ketiga roh itu. Dengan demikian kepribadian setiap orang di Indonesia ini akan meletup-letup didadanya rasa kerakyatan,kemerdekaan dan keksatriaan. Ketika ketiga roh itu telah melekat didada setiap anak bangsa dinegeri ini, pasti segala keterpurukan yang dialami Negara saat ini akan teratasi. Sebab semua orang merasa punya tanggung jawab yang sama tanpa harus menunggu pemerintah didalam menangani masalah bangsa dan negara.