Senin, 25 Oktober 2010

Harapan dan Kepercayaan bagi Pak BeYe

2009-2014,periode pemerintahan Indonesia yang saat ini dikemudikan oleh Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono. Usai para pemimpin ini dilantik pada 2009 yang lalu didepan parlemen, masyarakat khususnya yang berada dilingkungan birokrasi dan organisasi melakukan satu tindakan serentak secara nasional yaitu mengganti fhoto Presiden dan Wakil Presiden yang biasanya digantungkan di dinding bersama-sama dengan lambang negara. Ada hal menarik pada fhoto tersebut yakni pada fhoto RI1. Jika dibandingkan dengan fhoto pada awal kepemimpinannya yang lalu(2004),jelas kelihatan perbedaan yang mencolok. Fhoto 2004 wajah sang Presiden memperlihatkan keceriaan dengan senyum yang memukau. Namun pada fhoto 2009 wajahnya begitu sayu bahkan tidak memperlihatkan senyum, wajah yang kelihatan letih dan tidak bersemangat, wajah yang dipaksakan untuk berpose. Perihal itulah yang membuat kami disebuah kantor organisasi pada saat itu tidak memasang fhoto Presiden 2009. Tetapi tetap menggunakan fhoto 2004 dengan sebuah harapan.

Harapan bahwa apa yang dirasakan Presiden SBY pada tahun 2004 yang lalu(cerminan pada fhoto wajahnya) yakni sebuah semangat dan keinginan untuk memperbaiki segala permasalahan di Indonesia ini. Pose fhoto Presiden 2009 yang begitu sayu mungkin disebabkan oleh keletihan dari sebuah perjuangan politik yang berkepanjangan. Dimana pada saat itu SBY dipaksa tidak beristirahat untuk bisa kembali duduk di kursi RI 1 dan usaha yang dilakukan memang mencapai tujuan. Namun tidak jelas didasari oleh perihal apa sehingga SBY kembali mencalonkan diri. Sebab dilihat dari kinerjanya selama 5 tahun sebelumnya(2004-2009) tidak memberikan dampak yang baik bagi masyarakat Indonesia. Rakyat justru dibingungkan dengan hitung-hitungan politik angka kemiskinan,tingkat pengangguran,inflasi, dan lain sebagainya yang katanya membaik bagi Indonesia. Padahal masyarakat tetap merasakan kesusahan untuk hidup bahkan semakin dibuat tambah susah.

Senin, 18 Oktober 2010

KTSP bukan kurikulum baru

“Tidak ada yang baru dibawah matahari”, sebuah kalimat bijak yang teryata benar adanya. Sering sekali muncul hal-hal baru di mata kita,tetapi kenyataannya hal itu telah ada pada masa yang lalu. Kejadian itu timbul karena selang waktu yang lama dari kejadian sebelumnya. Bahkan generasi yang terlebih dahulu merasakannya sudah tidak ada lagi pada generasi tertentu yang merasakannya.

Demikian halnya didunia pendidikan,berbagai macam usaha yang dilakukan untuk menemukan bentuk sempurna telah dilakukan yakni dengan penyempurnaan-penyempurnaan kurikulum yang telah + 8 kali sejak tahun 1947 hingga tahun 2006 yang lebih dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KSTP). Pada awalnya pendidikan formal di Indonesia lahir sejak masuknya penjajah ke tanah air yakni sebelum tahun 1900. Namun tujuan pembentukan pendidikan formal oleh belanda pada waktu itu adalah untuk meminimalisir pemberontakan, karena orang-orang yang bersekolah tersebut diarahkan nantinya hanya menjadi buruh kasar dan pegawai kelas dua.

Keadaan demikian baru berubah setelah tahun 1900. Hal itu disebabkan timbulnya aliran dikalangan orang beranda sendiri yang merasakan bahwa telah tiba waktunya untuk mengembangkan negara yang dijajah.