Jumat, 19 November 2010

Pengenalan Ideologi GmnI (Marhaenisme)*


A. Pengantar Ideologi
Ideologi GmnI adalah Marhenisme. Ideologi memiliki arti suatu rangkaian ide yang terangkum menjadi satu. Munculnya sebuah ideologi didasari oleh adanya kesadaran akan suatu permasalahan yang harus diselesaikan untuk mendukung kehidupan bernegara, dengan tahapan :

  1. Mengamati
Kehidupan sosial masyarakat yang menjadi objek pengamatan memberikan gambaran akan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataaan.

  1. Bertanya
Akibat adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan tersebut muncul berbagai pertanyaan-pertanyaan tentang penyebab kesenjangan tersebut.

  1. Berpikir (Berdialektika)
Setelah melalui proses mengamati dilanjutkan dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan maka selanjutnya adalah proses berpikir. Proses berpikir tersebut merupakan suatu usaha dalam upaya mencari kebenaran yang paling mendasar untuk menemukan jawaban dari pertanyaan.

  1. Menjawab(berfilsafat)
Hasil dari berdialektika yang paling tinggi tadi itulah yang disebut dengan jawaban (filsafat). Filsafat yang sudah mencapai kematangan akan di kristalisasikan menjadi sistem filsafat.

  1. Ideologi
Sistem filsafat yang mengandung kebenaran dilaksanakan secara taat azas merupakan suatu tahapan pemikiran yang disebut Ideologi. System filsafat ini tidak semena-mena menjadi ideologi. Ketika system filsafat tersebut hanya jadi konsumsi sendiri maka kondisi itu tidak akan mencapai tahapan ideology, oleh karena itu pelaksanaan system filsafat perlu dilakukan pengajaran dan dimasyarakatkan agar menjadi sebuah Ideologi.


B. Lahirnya Marhenisme

Kamis, 11 November 2010

Kompleksitas masalah pendidikan.

Pendidikan adalah cara membuat perubahan. Hanya dengan pendidikan maka semuanya bisa berubah. Setelah menjalani praktek mengajar, teryata begitu kompkeksitasnya permasalahan pendidikan saat ini. Ingin rasanya menguraikan permasalahan itu satu persatu lengkap dengan penyelesaiannya. Namun kekurangmampuan dalam membedah permasalahan tersebut menjadikan langkah tersebut terhalangi.

Mengamati dan selalu mengamati itulah aktivitas yang begitu rutin selama masa praktik. Sehingga dapat saya simpulkan permasalahan pendidikan tidak dapat di universalkan yang tujuannya untuk menemukan solusi secara umum. Tetapi permasalahan pendidikan ini perlu dipandang atas dasar personalitinya seperti sebuah penyakit,meskipun dua orang yang sama mengalami demam. Tetapi keduanya tidak akan mendapatkan takaran atau obat yang sama.

Demikian halnya menangani masalah pendidikan saat ini. Keterfokusan pada pembentukan karakter bukanlah solusi handal yang menjadi prioritas. Tetapi hanya bagian terkecil yang tidak perlu dilebih-lebihkan seperti yang dilakukan kemendiknas saat ini. Sehingga faktor-faktor yang lain tidak terabaikan. Seperti beberapa masalah didunia pendidikan yang tidak berkaitan dengan karakter tetapi harus segera diperbaiki yaitu:

Rabu, 10 November 2010

Peringati hari pahlawan,GMNI Gunungsitoli-Nias adakan Demo.

Buruknya kualiatas kinerja SBY-Boediono membuat Dewan Pimpinan Cabang GMNI Gunungsitoli-Nias yang diketuai oleh Erwin Hulu menyampaikan kritikan melalui demonstrasi. Demonstrasi yang bertepatan pada hari pahlawan(10/10) tersebut dimulai dengan berkumpul di depan kampus IKIP Gunungsitoli pada pukul 09.00 wib,lalu melakukan pawai dengan sepeda motor mengelilingi pasar gomo gunungsitoli dan berhenti sebentar tepat di persimpangan kantor pegadaian untuk melakukan orasi. Usai orasi disampaikan,puluhan mahasiswa tersebut bergerak ke arah kantor DPRD Kota Gunungsitoli. Didepan Kantor DPRD tersebut para mahasiswa kembali melakukan orasi sebelum akhirnya diterima memasuki ruang rapat paripurna DPRD Kota Gunungsitoli.

Demonstrasi tersebut langsung diterima oleh Sowa'a Laoli Ketua DPRD beserta 6 orang anggota DPRD lainnya. GMNI Nias dalam Pernyataan sikap