Kamis, 11 November 2010

Kompleksitas masalah pendidikan.

Pendidikan adalah cara membuat perubahan. Hanya dengan pendidikan maka semuanya bisa berubah. Setelah menjalani praktek mengajar, teryata begitu kompkeksitasnya permasalahan pendidikan saat ini. Ingin rasanya menguraikan permasalahan itu satu persatu lengkap dengan penyelesaiannya. Namun kekurangmampuan dalam membedah permasalahan tersebut menjadikan langkah tersebut terhalangi.

Mengamati dan selalu mengamati itulah aktivitas yang begitu rutin selama masa praktik. Sehingga dapat saya simpulkan permasalahan pendidikan tidak dapat di universalkan yang tujuannya untuk menemukan solusi secara umum. Tetapi permasalahan pendidikan ini perlu dipandang atas dasar personalitinya seperti sebuah penyakit,meskipun dua orang yang sama mengalami demam. Tetapi keduanya tidak akan mendapatkan takaran atau obat yang sama.

Demikian halnya menangani masalah pendidikan saat ini. Keterfokusan pada pembentukan karakter bukanlah solusi handal yang menjadi prioritas. Tetapi hanya bagian terkecil yang tidak perlu dilebih-lebihkan seperti yang dilakukan kemendiknas saat ini. Sehingga faktor-faktor yang lain tidak terabaikan. Seperti beberapa masalah didunia pendidikan yang tidak berkaitan dengan karakter tetapi harus segera diperbaiki yaitu:


1. Menghilangkan tekanan pada proses pembelajaran. Hal ini mampu menyebabkan matinya keberanian peserta didik dalam berkreativitas. Kejadian ini bermula sejak Sekolah Dasar(SD) sehingga perlu kajian khusus di tingkatan ini. Cara terbaik adalah dengan menanamkan rasa tanggung jawab bagi peserta didik untuk mencapai target yang dia ketahui dia pahami.

2. Mengembalikan pendidikan berorietasi kebudayaan daerah setempat.bukan dengan membuat mata pelajaran muatan lokal. Hal ini terkait dengan menipisnya rasa nasionalisme setiap anak bangsa. Adat istiadat setiap daerah memang berbeda,namun pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama yakni membentuk moralitas,mental dan akhlak manusia. Melalui nilai-nilai falsafah pada setiap aktivitas bahkan petuah-petuah adat istiadat demi menanamkan rasa memiliki. Rasa memiliki pada daerah mampu membangun sebuah rasa nasionalisme yang didasari sebuah persamaan rasa. Oleh karena itu kerangka teoritis KTSP saat ini perlu dievaluasi dengan tujuan mengedepankan nilai-nilai budaya daerah sehingga lebih terasa bagi peserta didik tersebut.

3. Menghilangkan dogma bahwa sekolah adalah demi mendapatkan pekerjaan yang layak nantinya. Dengan dogma tersebut para peserta didik hanya akan menjalani sekolah tanpa target-target yang perlu dicapai. Seperti yang terjadi saat ini disegala aspek pendidikan sejak dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi hanya mengejar izajah. Hal ini juga disebabkan oleh lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia khususnya di Pemerintahan berorientasi pada ijazah tanpa perlu memandang kemampuan. Oleh karena itu sekolah harus dipandang sebagai lembaga yang berguna mengali potensi pada diri manusia yang dibawa sejak lahir dan yang didapatkan dari lingkungan.

4. Menyelaraskan tiga pusat pendidikan yakni sekolah, keluarga dan masyarakat. Berdasarkan pemikiran bahwa setiap tempat adalah tempat belajar maka ketiga unsur tersebut harus secara bersama-sama peduli pada pendidikan. Karena selama ini sekolah dipandang yang bertanggung jawab tentang maju mundurnya pendidikan seseorang. Sehingga sebuah keluarga lebih mempercayakan kepada sekolah semata untuk mendidik seorang anak. Padahal tanpa peran serta keluarga maka apa yang diajarkan disekolah tidak akan berguna bagi sianak. Demikian halnya dengan masyarakat sebagai lingkungan pergaulan sianak,perlu memberikan pengawasan atas implementasi teoritis yang diajarkan disekolah.

Itulah beberapa hal mendasar yang perlu dievaluasi guna mendapatkan out put pendidikan yang siap berbuat untuk membangun dan memajukan Indonesia.

Diposting juga di  : kompasiana/andijosua