Rabu, 01 Juni 2011

Manusia Rekaan

Manusia rekaan bukanlah manusia hasil kloning atau manusia robot. Tetapi manusia yang memiliki jiwa raga tetapi dikekang oleh orang lain sehingga terbentuk menjadi manusia sesuai keinginan orang lain bukan sesuai keinginan pemilik tubuh. Akibatnya si manusia tadi tercipta menjadi manusia yang egosentris. Manusia yang berpikir karena dirinya,bukan karena orang lain. Dia tidak mengganggu orang lain bukan karena orang lain itu tapi demi dirinya.

Perilaku demikian disebabkan oleh kondisi komponen pendidikan yang sudah tidak selaras lagi. Tiga komponen pendidikan itu adalah keluarga, lingkungan, dan sekolah. Keluarga dalam hal ini orangtua yang merupakan pendidik utama telah lupa akan perannya. Orang tua hanya sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga didikan-didikan yang bersifat kearifan lokal tidak lagi didapatkan oleh sianak. Keterbatasan orang tua dalam mendidik harusnya dilengkapi oleh lingkungan justru menjadikan teori terbalik.

Lingkungan kerap tidak peduli dengan perilaku sianak apalagi ketika lingkungan tersebut merupakan lingkungan yang "tidak sehat". Lingkungan yang seharunya mengajarkan si anak bagaimana membangun komunitas sosial dan rasa solidaritas yang minim didapatkan dikeluarga berubah menjadi mengajarkan pembentukan komunitas ekstrem, yakni komunitas yang mengabaikan kondisi orang lain, komunitas yang merendahkan derajat orang lain. Sementara rasa solidaritas hanya menjadi bagian dari komunitas ekstrem tersebut dan cuek terhadap komunitas diluarnya.

Kondisi ini semakin diperparah oleh persekolahan kita, persekolahan yang harusnya memberikan pengajaran mendapatkan beban yang menumpuk akibat kondisi keluarga dan lingkungan tadi. Keterfokusan sekolah harusnya mengajarkan si anak dalam menumbuhkembangkan intelektualnya, berubah menjadi mendidik si anak agar lebih bermoral. Hal ini bisa dilihat dengan gencar-gencarnya Kementrian Pendidikan Nasional untuk melaksanakan pendidikan karakter di sekolah-sekolah.