Tuntas atau Candu Belajar Demo

Demostrasi pertama kali saya kenal ketika berada di semester 2. Lalu di semester 3 saya sudah pimpin aksi. Berikutnya saya hanya pimpin aksi 2 kali lagi dan tetap ikut aksi dikesempatan lain dengan berbagai peran, tetapi yang dominan sebagai orator.

Pertama kali diajari, ada rasa takut, bahkan ada rasa malu. Karena demonstran itu terdoktrin adalah hal yang buruk. Namun seiring berjalannya waktu semua itu terbantahkan. Bahkan di blog pribadi membuat tulisan dengan judul "hinakah seorang demonstran??"

Awal belajar, tentu ada yg mengajari. Kita pertama sekali di ajari bagaimana membedah isu hingga menemukan isu pokok. Setelah memahami itu diajarilah kita untuk memanajemen aksi. Namanya manajemen tentu untuk mengatur bagaimana agar aksi tersebut berjalan sesuai yang dikehendaki.

Dalam pelajaran itu, yang paling menarik adalah peran kotra intelegen. Peran yang bagi setiap orang sepertinya peran sampah dan tidak ada artinya dalam managemen aksi. Padahal peran itu, salah satu peran sentral yang penjelasannya diketahui oleh orang-orang yang pernah benar-benar belajar aksi. Peran ini tidak saya jelaskan untuk menyesuaikan manfaat peran tersebut.

Selain itu, juga hal yang paling penting adalah menjaga kerahasiaan isu. Pernah satu kali, usai memanagemen isu, poin-poin isu tidak dihapus di papan tulis, dengan tujuan agar setiap kawan-kawan yang lain dapat membaca isunya. Akhirnya pengajar memberitahu bahwa itu adalah kesalahan fatal. Karena katanya pembiaran isu seperti itu dapat melemahkan kegiatan demo nantinya. Karena peserta demo dapat di kontra isukan saat berada di lapangan.

Seiring berjalan waktu, banyak hal yang dipelajari tentang demo, baik itu lewat membaca sejarah maupun dari penuturan langsung. Hingga membuat keputusan bahwa demo itu digunakan untuk melawan rezim baik dalam kebijakan-kebijakan yang dibuat ataupun untuk menumbangkan kekuasaan. Jika bukan untuk itu maka demo itu adalah salah satu alat untuk belajar menyampaikan pendapat. 

Sesuai dengan perkembangan zaman, demo pun berevolusi tanpa meninggalkan guna awalnya. Evolusinya yakni menjadi alat untuk unjuk kekuatan lewat banyak massa dan juga alat untuk sekedar berkenalan dengan rezim penguasa. Agar rezim waspada terhadap pendemo itu. 

Nah evolusi demo inilah yang tidak mengenal lagi manfaat kontra intelegent tersebut. Evolusi demo ini, senang mengumbar ke publik bahwa akan mengadakan demo jauh-jauh hari sebelum demo. Dengan tujuan yang hanya diketahui pelakunya saja.

Karena awalnya bagi saya demo itu adalah belajar, tentu dalam belajar ada sebuah ketuntasan, bukan kecanduan. Karena ketuntasan akan memulai kepada pelajaran baru sedangkan kecanduan akan tetap melakukan pelajaran yang sama.

Merdeka !!!
Terbaru
« Prev Post
Terlama
Next Post »